Dalam dunia peternakan, biaya pakan sering kali menjadi tantangan terbesar. Bayangkan saja, pengeluarannya bisa mencapai lebih dari setengah total biaya produksi. Wajar kalau kemudian banyak peternak dan mahasiswa peternakan mulai mencari cara supaya kebutuhan nutrisi ternak tetap terpenuhi tanpa harus keluar biaya besar. Salah satu bahan yang kini mulai dilirik adalah Corn Gluten Feed (CGF).
Sebenarnya Apa Itu Corn Gluten Feed?
CGF berasal dari sisa proses pengolahan biji jagung, terutama dari
pembuatan tepung maizena dan sirup glukosa. Bagian yang tadinya dianggap limbah
ternyata masih menyimpan nilai gizi yang tinggi. Karena itu, bahan ini bisa
dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak yang kaya nutrisi. Secara fisik,
bentuknya agak kasar, warnanya kecoklatan, dan mudah dicampur ke dalam pakan
unggas. Menariknya, kandungan proteinnya lebih tinggi dibandingkan jagung utuh,
sementara kadar seratnya ikut membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan
unggas.
Kandungan Nutrisi CGF
Kalau ditinjau dari kandungan gizinya, CGF termasuk bahan yang cukup
potensial. Protein kasarnya berada di kisaran 18 sampai 24 persen, sedangkan
serat kasarnya berkisar antara 8 hingga 12 persen. Energi yang dapat
dimanfaatkan unggas dari bahan ini mencapai sekitar 2.000 hingga 2.300 kkal per
kilogram, dengan kandungan lemak sekitar 2 sampai 5 persen. Kombinasi ini
membuat CGF cukup mampu menggantikan sebagian bahan pakan mahal seperti jagung
dan dedak tanpa menurunkan performa ternak.
Kelebihan CGF untuk Unggas
Dibandingkan dengan bahan pakan lain, CGF punya sejumlah keunggulan. Selain
harganya yang lebih terjangkau, bahan ini juga mudah diperoleh karena industri
pengolahan jagung terus berkembang. CGF juga fleksibel, bisa dicampurkan dalam
berbagai jenis ransum, baik untuk ayam pedaging, petelur, maupun unggas air
seperti itik dan puyuh. Seratnya pun bermanfaat untuk menjaga pencernaan,
terutama bagi ayam petelur agar tetap sehat dan produktif.
Cara Penggunaan dalam Ransum Unggas
Setiap jenis unggas tentu memiliki kebutuhan yang berbeda. Pada ayam
pedaging, penggunaan CGF umumnya berkisar antara 5 hingga 10 persen dari total
ransum. Untuk ayam petelur, proporsinya bisa sedikit lebih tinggi, sekitar 5 sampai
15 persen. Sedangkan pada unggas air seperti itik atau puyuh, level
penggunaannya biasanya berada di rentang 5 hingga 12 persen. Meskipun begitu,
pemberian dalam jumlah berlebihan sebaiknya dihindari karena kandungan seratnya
yang cukup tinggi bisa memengaruhi pertumbuhan. Agar formulasi pakan tetap
seimbang, penambahan sumber protein lain seperti bungkil kedelai sangat
disarankan.
Kekurangan yang Perlu Diperhatikan
Walaupun punya banyak keunggulan, CGF tetap memiliki batasan. Kandungan seratnya yang tinggi membuat bahan ini kurang cocok digunakan sebagai komponen utama pakan. Selain itu, kualitas CGF bisa berbeda-beda tergantung dari pabrik pengolahnya, jadi penting banget nih untuk memilih pemasok yang sudah terpercaya. Formulasi pakan pun perlu disesuaikan agar kebutuhan nutrisi ternak tetap terpenuhi secara optimal
Secara keseluruhan, Corn Gluten Feed bisa dibilang sebagai salah satu pilihan menarik untuk menghemat biaya pakan tanpa mengorbankan kualitas nutrisi. Selama digunakan dengan takaran yang tepat, bahan ini bisa bantu meningkatkan efisiensi dan performa unggas di kandang.
Sebagai mahasiswa peternakan, memahami bahan-bahan alternatif seperti CGF bukan cuma soal teori di kelas, tapi juga tentang bagaimana kita bisa ikut berkontribusi dalam menciptakan sistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Karena sejatinya, menjadi insan peternakan bukan sekadar belajar memberi makan ternak, tapi juga belajar bagaimana memberi solusi untuk masa depan pangan bangsa.
Sumber Literatur :
Inrae cirad afz feedtables. (2022). Corn gluten feed – Composition and Nutritional Values. https://www.feedtables.com/content/corn-gluten-feed
Evaluation of corn gluten feed in the diets of laying hens https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2320535/

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar